LET'S ENJOY MY BLOG

Sabtu, 07 November 2009

Perjalanan Sang Inspirator


“Di balik Tirai Mimpi dan Harapan”

HUMAN INTEREST
Oleh, Melisa Ari Santy
Mentari pagi yang menyapanya setiap hari merupakan pembangkit semangat yang tiada duanya, seolah olah mentari itu hanya terbit untuknya. Tetapi cerahnya pagi itu, ternyata belum sepenuhnya membawa keberuntungan bagi dirinya. Pagi itu, hanya dengan beralaskan sandal butut yang sejak beberapa tahun lalu dibelinya dari loakan, saat itu menjadi modalnya untuk mencari sereceh atau selembar uang demi mengisi perutnya yang sejak kemarin masih kosong. Dari toko yang satu ke toko yang lain mulai dikunjunginya hanya untuk menawarkan jasa angkat barang ataupun bersih bersih. Memang tak mudah baginya menjalani hidup sendiri saat umurnya masih 8 tahun, di mana saatnya seorang anak masih bisa menuntut menjadi anak normal lainnya yang bersekolah dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Tapi, kepahitan hidup seperti itu tak pernah menghentikan langkahnya sedetikpun. Semangat dan mimpinya yang membuatnya sampai saat itu tetap hidup, dan hingga saat ini mimpinya terwujud.

Bagi seorang Sunaryo, cerita lamanya bukanlah peristiwa yang mudah untuk dihilangkan begitu saja. Menurutnya, pengalaman sangat berarti baginya. Dia menjadi pengusaha sukses saat ini karena pengalaman yang membuatnya terus belajar untuk menjadi yang terbaik.

Langkah awalnya yang dimulai dari motivasi untuk mengubah hidup menjadi lebih baik saat 40 tahun yang lalu, terbukti telah membawanya ke singgasana kesuksesan. Menjadi seorang Pengusaha yang sukses memang sudah menjadi pilihan mimpinya sejak kecil. Orang tuanya yang mendidiknya dengan keras untuk menjadi mandiri ternyata membuat kehidupannya bagai seorang pelayan di istana sendiri. Kemuakannya akan ketidakadilan tersebut, membuat dirinya memilih untuk menghidupi dirinya sendiri walaupun itu terasa sangat sulit. Baginya lebih baik dicabik oleh orang lain daripada orang tua sendiri. Sakit hati yang mendalam dan terlebih lagi idealis yang tinggi menjadikannya memutuskan untuk hidup di luar sendiri dan kabur dari rumahanya sekitar 40 tahun yang lalu. Tetapi, karna keputusan itulah yang ternyata membuatnya menjadi salah satu pengusaha tas yang sukses dan terkenal di lampung. Perusahaannya yang kini diberi nama San Collection adalah bukti nyata kesuksesannya dari seorang yang mulanya hanyalah seorang buruh serabutan dengan sebuah mimpi besar.

Dulunya memang dia adalah seorang buruh. Beruntungnya, dia menemukan seorang yang baik hati dan menawarkan pekerjaan menjadi buruh dari seorang pengrajin tas di tasikmalaya/ Cianjur, Jawa Barat. Dari sinilah, kehidupannya mulai berubah. Walaupun dengan penghasilan yang kecil, tetapi dia mendapatkan banyak pembelajaran dan keterampilan mengenai cara membuat tas yang berkualitas. Selama kurang lebih 10 tahun, beliau bekerja di pengrajin tas tersebut, ternyata memberikan keuntungan bagi dirinya pribadi. Sereceh demi sereceh uang yang terkumpul, tidak ia hamburkan begitu saja. Susahnya kehidupan menjadi pelajaran berharga baginya untuk menghargai uang yang ia miliki.

Dengan semangatnya yang sejak awal tidak pernah pantang menyerah dalam mewujudkan mimpinya, kemudian membuatnya mencoba untuk memulai menapaki harinya dengan berbisnis sendiri di Lampung. Dengan uang tabungan selama 10 tahun tersebut, dia mencoba meniti karir di bidang perbisnisan pembuatan tas. Tapi ternyata, pilihannya untuk berbisnis tidak salah. Setelah sekembalinya dari Bandung, dia menjalankan usaha pembuatan tas sekolah, yang saat itu pesaingnya di Lampung hanya sedikit sekali. Dengan kata lain, bila produknya lebih berkualitas, dia bisa saja memonopoli pasar di lampung.

Tanpa mengenal rasa ragu dan berani yang telah menjadi sahabatnya saat itu dalam memulai karirnya di dunia perbisnisan, ternyata membawanya selangkah demi selangkah ke tangga kesuksesan. Di usia muda yang meranjak 26 tahun, dia menikahi seorang wanita cantik dan menjadi pendamping yang selalu memotivasi dirinya untuk terus melanjutkan pembangunan istana mimpinya di dunia nyata dengan pondasi keinginan dan tekad yang kuat untuk menjadi lebih maju.

Selama 25 tahun dia menjalankan bisnis pembuatan tas, tak ada prinsip mundur dan menyerah dalam membangun mimpinya itu. Terkadang bila hambatan datang menyapa, dia terus saja maju dan menampar jauh jauh hambatan itu. Tantangan baginya adalah menu makanan yang memberikan tenaga bagi dirinya atau dengan kata lain tantangan adalah pembelajaran untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Dan saat ini, dia telah berumur 48 tahun dan memiliki 4 orang anak perempuan. Di sebuah rumah mewah yang dibangunnya 20 tahun yang lalu, dia bersama keluarganya tinggal bahagia selamanya. Dan sampai saat ini pula, ia telah mempunyai 1 toko besar di samping rumahnya, 1 mobil mewah, kebun seluas 1 hektar dan tak lupa pabrik tas yang cukup besar dengan wilayah pendistrubusian produknya di Kota Agung, Metro, Kotabumi, Panjang, Bandar Lampung dan daerah lampung lainnya.
Saat akhir ceritanya, dengan penegasan yang cukup mendalam dia mengatakan agar kita jangan takut untuk bermimpi, karena mimpi adalah awal dari segala kesuksesan. Dan janganlah takut untuk mencoba dan berusaha karena hanya itu jalan untuk mewujudkan mimpimu. Sungguh mengesankan!.

Dan hingga saat ini pun aku masih begitu terkesima oleh perjalanan hidupnya. Penuh kerikil dan batuan tajam. Bagiku beliau adalah inspirator hidup, bukan hanya sebagai pengusaha tetapi juga sebagai ayah. Beliau adalah ayahku, yang tanpa perjuangannya, mungkin saat ini aku tak akan bisa merasakan nikmatnya dunia. Pelajaran yang berharga darinya takkan pernah kusia siakan. Beliau lah yang mengajarkan aku untuk bermimpi dan beliau jugalah yang mengajarkan aku bagaimana mewujudkan mimpi itu. “Terima kasih Pa, Inspiratorku”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar