LET'S ENJOY MY BLOG

Jumat, 18 Desember 2009

DAMPAK SOCIAL MEDIA TERHADAP BUDAYA BANGSA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN BUDAYA GLOBAL

Setiap orang di seluruh dunia pasti tidak asing lagi mengenal kata sosial media. Mungkin saja bisa dikatakan bahwa kita tidak akan mendapatkan image “gaul” sebelum mengenal dan juga menggunakan social media ini. Social media dalam konteks sosiologi komunikasi yang kita bahas adalah mengenai peranannya atau fungsinya yaitu sebagai sarana untuk berinteraksi dan bertukar informasi dari orang yang satu ke orang yang lainnya. Dengan adanya sosial media ini kita mendapatkan manfaat yang berlimpah. Kita dapat menjalin hubungan dengan teman lama ataupun teman yang baru juga karena adanya sosial media ini.

Dampak Social Media terhadap Budaya Indonesia

Bagaikan uang yang diciptakan dengan memiliki sisi permukaaan yang berbeda, social media juga memiliki dua sisi yang berbeda pula, ada yang positif dan negatif. Tapi baik sisi negatif maupun sisi positif tetap yang merasakannya adalah masing masing dari individunya sendiri. Secara konteks sosiologi komunikasi yang mana selalu menitikberatkan pada interaksi dari khalaknya, oleh karena itu, yang kita teliti di sini adalah dampak dari interaksi melalui social media tersebut bagi budaya Indonesia sendiri.

Dampak Positif Social Media

Dengan adanya social media, kita akan saling beinteraksi dan bertukar informasi dengan orang lain baik dari negara sendiri maupun dari negara lain. Budaya yang kita kenal bukan hanya dalam arti yang sempit saja tetapi juga arti luasnya yang mencakup agama, suku, adat istiadat, bahasa, kebiasaan, aturan, ritual, dll. Dengan adanya interaksi dengan orang orang asing dari negara lain, kita bisa menceritakan mengenai budaya kita, mengenai keragamannya, keunikannya serta kekhasannya. Contohnya, dengan interaksi tersebut kita dapat menceritakan tentang batik kita yang kini sudah menjadi ciri khas negara kita, kemudian tari tarian di Indonesia yang terkenal dengan keindahan dan keanggunannya, seperti : tari pendet, tari kecak, tari Saman, dll, dan kita juga dapat menceritakan bahwa Indonesia memiliki berbagai macam suku (dayak, jawa, bali, dll), agama (Islam, kristen, katolik, budha, Hindu), bahasa daerah, ritual ritual, dan lain lain, dimana keberagaman tersebut bukanlah menjadi perpecahan melainkan merupakan keragaman yang khas dan menjadikan Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Bila kita sering menggunakan sarana social media sebagai sarana untuk menceritakan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia, dipastikan budaya Indonesia akan menjadi primadona bagi masyarakat dunia, dan pastinya akan membuat mereka datang ke Indonesia.

Selain itu juga dalam percakapan kita, kita bisa saja menunjukkan bahwa tata bahasa kita merupakan budaya timur yang kaya dengan keramahan dan tutur kata yang lembut. Bila kita sering berinteraksi dengan bangsa lain, kita akan merasakan bahwa budaya kita sangatlah berbeda dengan mereka. Bila budaya negara mereka lebih liberal, bebas dalam berpendapat dan lebih cenderung “berkata apa adanya”, tapi negara kita terkenal dengan keramahan dan menonjolkan kekhasan masyarakatnya yang saling menghargai serta menghormati perasaan orang lain, yang mana itu sudah menjadi budaya yang sudah turun menurun sejak dulu. Perbedaaan dalam bahasa dan cara berkomunikasi itulah yang dapat membuat mata dunia terbuka lebar hanya untuk melihat bahwa budaya Indonesia kaya dengan moral, etika dan kesantunan. Hingga saat inipun banyak masyarakat dunia yang menyukai Indonesia karena terkenal dengan keramahan dari masyarakat Indonesianya sendiri.

Dengan adanya interaksi di social media tersebut, kita juga bisa mengetahui kebudayaan-kebudayaan bangsa lain, sehingga dapat dibandingkan ragam kebudayaan antarnegara, bahkan dapat terjadi adanya akulturasi budaya yang akan semakin memperkaya kebudayaan bangsa. Selain itu, interaksi antar bangsa sendiri melalui social media dapat dimanfaatkan untuk memperteguh dan memperkokoh budaya sendiri. Bila kita memang bangga pada budaya sendiri, tidak ada salahnya bila kita saling bertukar informasi tentang masing masing budaya daerah, baik budaya dari provinsi yang kita tinggali maupun budaya dari provinsi provinsi lainnya. Misalnya saja, orang lampung menceritakan semua tentang budaya lampung kepada orang jawa, dan juga sebaliknya. Hal tersebut dapat memperkaya pengetahuan kita tentang budaya budaya di Indonesia.

Bila kita sering mengamati perkembangan facebook, sebagai sarana interaksi, kita akan sering melihat banyak percakapan yang berkaitan dengan isu isu budaya yang terkini saat ini, yang pertama mengenai Batik yang menjadi pakaian nasional Indonesia dan yang kedua klaim Malaysia terhadap budaya budaya kita. Dalam percakapan tersebut sangat terlihat bahwa interkasi melalui facebook dapat membangkitkan nasionalisme kita. Misalnya saja, mengenai kasus klaim malaysia terhadap budaya Indonesia. Terlihat interaksi dalam facebook tersebut berisikan banyak sekali kecaman terhadap Malaysia. Mereka sadar bahwa budaya tersebut milik kita, dan disitulah nasionalisme sangat terlihat jelas keberadaannya.

Dampak negatif Social Media

Social media sebagai sarana interaksi ternyata bisa berdampak negatif bagi budaya bangsa kita. Terbukti dengan seringnya kita chating dengan bangsa lain yang tidak diimbangi dengan ketidaksiapan kita untuk menerima budaya global membuat masing masing individu (users) malah mengikuti dan menyukai budaya global yang cenderung tidak sesuai dengan budaya kita. Banyaknya masyarakat Indonesia yang lebih menyukai budaya global karena lebih dianggap “trend terbaru” untuk dijadikan gaya hidup sehari hari, membuat budaya sendiri sulit untuk dipertahankan keeksisannya.

Saat kita berinteraksi di Internet, tanpa kita sadari, kita sudah berada di tengah tengah budaya global. Di dunia ini, kita tidak bisa hanya menonjolkan budaya kita sendiri. Dan hal itulah yang memicu masuknya unsur-unsur budaya asing seperti bahasa pergaulan yang cenderung “kasar dan blak blakan “, pola pergaulan hedonis (memuja kemewahan), pola hidup konsumtif yang kemudian menjadi pola pergaulan dan gaya hidup masyarakat kita. Bagi individu masyarakat yang tidak siap menyesuaikan pola pergaulan tersebut, mereka akan menarik diri dalam arus pergaulan global tersebut dan membuat mereka lupa akan jati diri sebagai masyarakat yang memiliki budaya tersendiri. Mereka yang selalu menjadi korban dari budaya global akan terus mengikuti arus globalisasi yang menuntut gaya hidup liberal untuk diterapkan dalam kehidupan mereka sendiri. Bila itu terus menerus terjadi, maka budaya Indonesia akan kalah popularitasnya dengan budaya lain yang lebih modern.

Selain itu, seringnya kita berinterkasi melalui social media dengan bangsa lain akan membuat ketertarikan kita untuk mengikuti budaya mereka agar terkesan mengikuti zaman dan seakan budaya asing merupakan budaya yang dapat meningkatkan “gengsi” kita bila diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, Harajuku Style dan Europe Style, yang sangat ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Mereka lebih bangga menggunakan produk negara lain, bertutur kata dan bertingkah laku seperti budaya negara lain karena lebih menaikan gengsi dan image mereka. Terkadang banyak yang mengatakan, kita akan ketinggalan zaman bila tidak mengikuti trend budaya global saat ini. Hal itulah yang akan mengancam keberadaan budaya Indonesia di tengah tengah budaya asing. Jadi, interaksi melalui social media yang konsekuensinya adalah berhadapan langsung dengan budaya global dapat menggerus budaya sendiri apabila kita tidak dapat mempertahankan jati diri budaya kita di tengah budaya global tersebut.

Budaya Sendiri VS Budaya Global

Bila kita berbicara mengenai internet, pastinya akan membicarakan mengenai budaya global. Di dalam dunia maya ini, kita tidak bisa hanya bersikap sepihak pada budaya kita sendiri. Karena kita akan berbicara mengenai budaya global juga. Perlu diingat bahwa setiap bangsa memiliki budayanya sendiri dan kita harus hargai itu. Walaupun saat kita menggunakan social media tersebut sebagai sarana interaksi dan berkomunikasi dengan bangsa lain, dimana yang kita temui adalah budaya global, kita diharuskan bisa mempertahankan budaya sendiri. Jadi disini yang kita bahas mengenai dampak dari internet yang sebenarnya sangatlah relatif, tergantung pada tujuan penggunanya dalam memanfaatkan social media ini sebagai interaksi antar manusia. Kita tidak bisa menjudge budaya kita adalah budaya yang paling baik dan budaya lain tidak baik untuk kita. Tetapi, di sini point yang kita angkat adalah bagaimana kita mempertahankan dan melestarikan budaya kita di tengah tengah derasnya budaya global dalam dunia maya tsb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar