LET'S ENJOY MY BLOG

Jumat, 12 Desember 2008

MENGATASI KAIDAH EMAS SIMPATI DAN EMPATI

Kaidah emas menyuruh kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh mereka. Dalam kaidah ini terkandung asumsi kesamaan: bahwa orang lain seperti diri kita dan karena dia ingin diperlakukan sama. Kesamaan mengandung makna realitas yang tunggal dan mutlak. Dan pemikiran seperti itu adalaah dasa etnosentris. Kaidah Emas membawa kita pada strategi komunikasi simpati; yakni menganggap orang lain berpikir dan merasa seperti kita dalam menghadapi situasi yang sama. Untuk mengatasi Kaidah Emas kita harus mengasumsikan adanya pebedaan di antara orang orang dan adanya realitas ganda. Bila kita menggunakan prinsip ini, kita menggunakan straegi komunikasi empati; yakni secara imajinatif kita mengalami dunia dari perspektif orang lain. Kemampuan empati dapat dikembangkan dengan mengikuti enam langkah yang saling berkaitan. SIMPATI Simpati diartikan ”menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang lain (bennett, 1972;66). Dari definisi ini harus dipahami bahwa kita tidak mengambil peran orang lain atau membayangkan bagaiman orang lain berpikir atau merasa, tetapi kita hanya merujuk bagaimana kita sendiri berpikiri atau merasa dalam situasi yang sama. Misalnya, jika saya memberitahukan kepada anda bahwa bibi saya baru meninggal dunia, anda bersimpati kepada saya dengan membayangkan bagaimana anda merasa jika bibi anda meninggal dunia. Definisi ini tidak terbatas pada penderitaan saja. Simapati terjadi juga jika saya ceritakan kepada anda bahwa saya baru saja mendapat warisan satu milyar rupiah dan anda menanggapinya dengan membayangkan bagaimana peasaan anda jika anda menjadi jutawan. Wispe dalam International Encyclopedia of the Social Sciences (1968): ”Dalam empati, kita memperhatikan perasaan orang lain; dalam simpati orang memperhatikan penderitaan orang lain, tetapi perasaannya adalah perasaannya sendiri. Perbedaaan antara simpati da empati bukan saja dalam tingkatnya dan bukan jugasubjek perhatiannya. Perbedaannya terletak pada perspektif yang diasumsikan. Dua cara merespons simpati kepada orang lain; merujuk memori kita sendiri, yang di sini kita sebut sebagai simpati ingatan (reminiscent sympathy); dan merujuk imajinasi kita dalaam situasi yang berbeda, di sini kita sebutsimpati imajinatif. Dengan teknik simpati igatan, kita mencari pengalaman masa lalu untuk situasi yang mirip dengan situasi yang diamati pada pengalaman orang lain. Teknik simpati ingatan yang tampaknya tidak terbantah itu adalah sebagian alasan mengapa bekas alkoholik, narapidana, skizoprenik, dan orang orang ”berpengalaman” lainnya seringkali dianggap sebagai penyuluh yang terpecaya dalam bidang pengalaman mereka. Simpati imajinatif meliputi perujukan imajinasi kita sendiri dalam situasi yang berbedan. Contohnya, reaksi saya ketikaanda menceitakan keselamatan anda yang menakjubkan dari kecelakaan mobil, saya mencari respons yang cepat dengan membayangkan bagaimana perasaaan saya dalam situasi tersebut. Tetapi bagaimanapun saya membayangkan perasaan saya, perasaaan saya tidak ada hubungannya dengan perasaan anda. KEUNTUNGAN SIMPATI 1. Simpati itu mudah. KebanYakan kita tidak merasa senang kalau menghadapi sesuatu yang tidak kita kenal. Kita lebih suka mengidentifikasikan fenomena dengan kategori yang sudah ada untuk kita. Kerangka rujukan yang paling kita kenal adalah diri kita sendiri. Jadi, kita lebih senang menggeneralisasikan diri kita kepada yang lain 2. Simapati dapat dipercaya. Kepercayaan adalah faktor utama keberhasilan simpati ingatan. Karena asusmsi kesamaan menyebar luas, banyak orang percaya bahwa situasi yang sama melahirkan pengalaman yang sama. Karena itu kita cenderung mempercayai orang orang yang telah mengalaminya. 3. Simapti seringkali cermat. Kecermatan pengertian simpati bukanlah akibat proses. Kecermatan berasal dari kecenderungan kita untuk berada di sekitar orang orang yang sama dengan kita. 4. Simapati mungkin menyenangkan. Kadang kadang orang merasa senag ketika mengetahui bahwa orang lain menghadapi situasi yang sama walaupun pengalamannya berbeda. KERUGIAN SIMPATI 1. Simpati tidak peka pada perbedaan. Walaupun kita berusaha keras untuk berinteraksi hanya denga orang orang yang betul betul sama, seringkali kita juga terjebak dalam situasi komunikasi ketika orang lain mungkin berpikir dan merasa berbeda dengan kita. Dalam situasi ini, pengerian simpati cenderung tidak cermat dan mungkin dapat menghambat komunikasi efektif. 2. Dalam menghadapi perbedaan simpati bersifat menggurui. Menggeneralisasikan kerangka rujukan kita mengandung arti etnosentrisme. Salah satu konotasinya bahwa pengalaman kita adalah ukuran terbaik untuk menilai dirinya. 3. Berhadapan dengan perbedaan simpati melahirkan sikap defensif, yaitumerasa pandangan dunia kita yang berbeda diabaikan atau dipandang rendah oleh orang lain, kita kita akan bersikap defensif untuk melindungi apa yang kita anggap sebagai organisasi fenomena yang berhasil 4. Simpati melestarikan asumsi kesamaan. Simpati bukan saja menjalankan Kaidah Emas, tetapi juga melestarikannya. EMPATI Empati sering didefinisikan sebagai berada pada posisi orang lain; sebagai simpati yang dalam; sebagai kepekaan pada kebahagiaan bukan pada kesedihan; dan sebagai sinonim langsung dari simpati. Empati didefinisikan sebagai ”Objective Motor Mimicry” (Lipps, 1907); sebagai memahami orang yang tidak mempunyai makna emosionalbagi kita (Freud, 1921); dan sebagai ”keadaan ketika pengamat bereaksii secara emosional karena ia mempersepsi orang lain sedang mengalami atau akan mengalami emosi (Stotland, 1978). Emapti sebagai ”partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain (Bennet, 1972). Dalam empati, kita”berpartisipasi” bukan ”menempatkan”, dan kita berhubungan dengan ”pengalaman” dan bukan ”posisi”. Menempatkan diri kita dalam posisi orang lain mengasumsikan kesamaan pengalaman yang hakiki dengan orang lain. Sebaliknya, berpartisipasi dalam pengalaman orang lain tidak mengasumsikan kesamaan hakiki. Pengalaman orang lain mungkin saja sangat asing, walaupun posisinya sama. Kita harus memasuki kepala dan hati orang lain, berpartisipasi dalam pengalamannya seakan akan kita betul betul orang lain itu. MENGEMBANGKAN EMPATI Ada enam langkah dalam prosedur untuk menjadi petunjuk mengembangkan keterampilan empati, yaitu : 1. Mengasumsikan Perbedaaan. Jika kita menerima bahwa kita bisa saja berbeda menghadapi konstuksi dan situasi yang berbeda, maka kita kan bebas membayangkan pikiran dan perasaan kita dari perspektif yang lain. Selama kita dapat menghubungkan perspektif dari hasil bayangan kita dengan perspektif orang lain yang sebenarnya, maka barulah kita dapatmelakukan empati. 2. Mengenali Diri. Jika kita menyadari nilai, asumsi dan keyakinan individual secara kultural kita sendiri, yakni: bagaimana kita mendefinisikan identitas kita, maka kitatidak perlu takut kehilangan diri kita. Kita tidak akan kehilangan sesuatu yang dapat diciptakan kembali sekehendak kita. 3. Menunda diri. Identitas yang dipertegas pada langkah langkah untuk sementara dikesampingkan. Salah satu cara memikirkan prosedur ini adalah membayangkan bahwa diri atau identitas adalah batas arbitrer yang kita tarik antara diri kita dengan dunia yang lain, termasuk orang lain. Penangguhan diri adalah perluasan batas ini secara sementara menghilangkan pemisahan antara diri dan lingkungan. Pusat perhatian pada langkah ini adalah bukan pada menunda ”isi” identitas (asumsi, nilai, perangkat perilaku,dan seterusnya). Tetapi, fokusnya terletak pada kemampuyan mengubah dan memperluas batas. 4. Melakukan Imajinasi Terbimbing. Jika batas diri diperluas, perbedaan antara yanginternal dengan yang eksternal (subjektif dan objektif) dihapuskan. Dalam keadaan yang diperluas, kita dapat menggerakan perhatian kita ke dalam pengalaman peristiwa yang biasanya eksternal, bukan memusatkan perhatian kita kepada peristiwa tersebut. Geseran kesadaran ke dalam fenomena ini, yang biasanya tidak dihubungkan dengan diri, dapat disebut ”imajinasi”. Agar empati interpersonal yangcermat terjadi, kita harus membiarkan imajinasi kita dibimbing ke dalam pengalaman orang lain tertentu. 5. Membiarkan Pengalaman Emapati. Jika kita membiarkan imajinasi kita dibimbing ke dalam diri orang lain, kita sedang mengalami seakan akan orang itu adalah diri kita sendiri. Walaupun pengalaman ini imajinatif, intensitas dan ”realitasnya” tidak selalu lebih rendah dari pengalaman biasa kita. Intensitas pengalaman empati kita bahkan bisa lebih besar, sejajar dengan intensitas drama yang kadang kadang lebih besar dari kehidupan. 6. Meneguhkan kembali Diri. Empati Interpersonal membiarkan penundaan identitas secara terkendali dan sementara untuk mencapai tujuan khusus, memahami orang lain. Jika tujuan ini tercapai, batas batas diri dapat ditegakkan kembali. Salah satu pengecualian diri ini mungkin saja berupa mempertahankan hubungan akrab di mana kita terlibat ” menjadi satu dengan orang lain”. Identitas diteguhkan kembali dengan, pertama tama, menciptakan lagi rasa keterpisahan antar diri kita dengan orang lain yang merupakan keadaan normal dalam kebudayaan kita. Jika perpisahan ini diperoleh kembali, isi pandangandunia kitasecara otomatis muncul lagidan dan dapat ditentukan pikiran dan perasaasn kita yang mana kepunyaan siapa. Mungkin jugaberguna mengontraskan reaksi simpati kita pada orang lain dengan pengertian empati. Dari kontar ini dapat muncul pengakuan yang jelas tentang perbedaan antar diri kita dan yang lain. Pengakuan ini yang memperkokoh perlunya empati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar