LET'S ENJOY MY BLOG

Sabtu, 07 November 2009

Julukannya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

“Pengabdian Sang Guru”

HUMAN INTERST
Oleh, Melisa Ari Santy

Mungkin kita tidak akan pernah asing mendengar kata guru. Dari taman kanak kanak hingga sekolah yang paling tinggi sekalipun, kita akan selalu mengenal sosok guru. Kata itu sering kita ucap, tapi mungkin hanya sedikit yang mengetahui betapa besar jasa seorang guru. Guru, sosok yang mendidik kita agar menjadi pintar dan berguna bagi nusa dan bangsa kelak. Dengan jasa yang ia berikan, sedikitpun tidak ia harapkan pamrih maupun pujian. Pengabdiannya yang begitu besar untuk mencerdaskan bangsa tidak akan sanggup dibayar walaupun hanya sekedar uang maupun harta. Seperti pepatah yang mengatakan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Saat reformasi telah berkumandang, seakan banyak yang menjerit jerit tentang pembelaan mengenai hajat hidup orang banyak. Dan pendidikan termasuk di dalamnya. Tapi kondisi ini pun tidak sedikitpun memberikan manfaat bagi seorang guru yang seharusnya jasanya dapat diberi penghargaan tetinggi di tengah tengah bangsa yang sangat miskin dengan pengetahuan. Tak terkecuali juga dengan nasib salah seorang guru di pedalaman desa Natar. Dia adalah Ahyar Ilyas, seorang guru di SDN 5 Rululloh.

Bila dihitung dengan jari, hampir 9 tahun dia mengabdi pada sekolah itu. Langkah sabar dan tekad kuat yang telah menjadi teman lama baginya, ternyata telah memberikannya semangat di setiap hari harinya. Malam pun yang terkadang terasa bagai siang, selalu menjadi bagian dari kesehariannya dalam mencari nafkah demi keluarga. Susahnya kehidupan tidak menjadi pagar pembatas pengabdiannya pada dunia pendidikan.

Pak ahyar adalah seorang guru di sebuah sekolah yang terletak di Tegineneng dalam, dusun Gajahmati atau Pedalaman desa natar. Sepeda motor tua miliknya, ia pilih sebagai sarana transportasi ke daerah pedalaman, dengan jarak tempuh sekitar 30 hingga 38 kilometer atau bila dihitung waktu, harus menempuh sekitar satu seperempat jam. Menurutnya, daerah pedalaman sangat rawan akan pencurian dan pemerasan sehingga tidak dapat menggunakan motor yang lebih layak.

Seminggu tiga kali, Ia memang harus melewati jalan truk yang rusak. Jalan yang dilaluinya memang tidak mudah. Dia harus menempuh berkilo kilo jalan truk yang berlubang, bergelombang dan sangat berbahaya hanya demi mengajar siswa siswinya. Walaupun jalan tersebut beraspal. Aspal tersebut sudah sangat rusak. Pernah suatu ketika, saat liburan, dia bersama kepala sekolah bermaksud untuk memperbaiki cat dinding sekolah. Namun sialnya, karena kondisi jalan yang sangat memprihatinkan tersebut, roda belakang motor terpeleset semen pilar got hingga iapun terjatuh.

Keletihan dan kesulitan dalam menempuh perjalanan menuju sekolah ternyata diperparah pula dengan pola pikir masyarakat sekitar sekolah yang sangat tidak peduli akan pendidikan anak anak mereka. Kurangnya partisipasi serta kesadaran wali murid dalam proses belajar mengajar menyebabkan anak mereka menjadi malas bersekolah. Dan bila anak mereka tidak sekolah, mereka hanya membiarkannya saja seakan pendidikan bukan menjadi kebutuhan primer bagi mereka. Kenyataan itu menambah keprihatinan pak ahyar terhadap kondisi pendidikan di indonesia yang sebenarnya sudah lemah dari struktur dan budaya masyarakatnya sendiri.

Pengarahan maupun komunikasi pun telah dilakukan oleh pihak sekolah dalam menindaklanjuti permasalahan tersebut. Tetapi pada kenyataannya, solusi tersebut tidak berhasil. Selain karena pendidikan dan pengetahuan masyarakat di sana yang rendah, tetapi juga sulitnya berkomunikasi menjadi faktor utama ketidakberhasilan tersebut. Hampir seluruh masyarakat di sana yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari hari sehingga semakin mempersulit upaya beliau dan pihak sekolah untuk memberitahukan pentingnya pendidikan bagi generasi bangsa sekarang.

Selain kurangnya kepedulian orang tua, memang pada dasarnya anak anak murid di sekolah itu yang susah dikendalikan juga. Terkadang, murid bersekolah dengan seragam yang tidak rapi, kotor, dan lusuh. Seringkali juga mereka berangkat sekolah dengan pakaian seragam merah putih yang bajunya sudah berubah menjadi warna kuning dan mengenakannya pun tidak tertib karena baju sering dikeluarkan dan tanpa tali pinggang. Lebih parahnya lagi, ada yang tidak memakai sepatu ke sekolah.
Pak ahyar termasuk guru yang memiliki pengorbanan dan jasa yang besar untuk kemajuan pendidikan di sana. Banyak masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai guru tetapi enggan mengajar di sekolah tersebut. Mungkin, karena sekolah itu adalah satu satunya sekolah terpencil di kecamatan natar.

Letih dan keringat yang bercucuran tidak menjadi hambatan baginya dalam menjalankan amanah sebagai guru. Menurutnya, perjuangan yang benar benar dirasakannya adalah untuk mencerdaskan muridnya disana walaupun pada kernyataannya tidak ada dukungan dari orang tua maupun sarana sekolah yang tidak memadai dan kurang lengkap. Selain itu, mungkin karena tingkat ekonomi yang rendah ataupun kurang perhatian orang tua yang ditambah ketidakpedulian anak dalam proses belajar mengajar, menyebabkan anak enggan membeli buku yang seharusnya menjadi media penunjang proses belajar mengajar.
Semua rintangan dan hambatan adalah bagian dari hidup yang tidak akan berhenti. Baginya, dia pantang untuk sedih dengan sesuatu yang merupakan integral dalam kehidupan. Kelapangan dada sudah menjadi pilihan untuk menghadapinya. Dan pesannya pada generasi muda saat ini, “Giatlah dalam mencari ilmu supaya bangsa ini tidak menjadi bangsa yang tertinggal, tetapi menjadi bangsa yang cerdas, terampil dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa.” Memang pesannya itu begitu singkat dan sederhana, tetapi di dalamnya terdapat arti yang begitu berharga dan mendalam demi kemajuan pendidikan bangsa ini.

Pak ahyar hanyalah salah satu dari guru yang dengan keterbatasannya, dia mampu bertahan hanya demi mencerdaskan generasi muda saat ini. Pengorbanannya yang begitu muliahanya demi bangsa ini tak dapat diukur oleh harta. Baginya,yang terpenting anak anak di negeri ini bisa mendapatkan pendidikan sehingga tidak menjadi bangsa yang tertinggal. Sosok seperti pak ahyar inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi para generasi muda saat ini.


(Kisah Nyata Seorang Guru di SDN 5 Rolulloh Pedalaman Desa Natar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar