LET'S ENJOY MY BLOG

Kamis, 31 Maret 2011

BAGINYA, “BUTA ADALAH KESEMPURNAAN”


Hujan rintik menyelimuti dinginnya malam. Mendungnya awan laksana gumpalan kapas hitam di langit luas. Bintang yang selalu menggoda setiap insan seakan enggan untuk memanjakan romantisme setiap keluarga dan bahkan bulan pun tersipu malu di balik kelamnya malam. Cahaya lampu di taman mulai menghiasi dan menerangi malam itu. Suara binatang kecil pun mulai bersahutan dengan riangnya. Cengkrama setiap keluarga mulai terdengar di setiap sudut-sudut rumah dan terlihat pula senda gurau antara mereka. Gelak tawa anak-anak mulai terdengar ketika kehangatan keluarga mulai tercipta. Di tengah keceriaan malam, terdengar suara dentingan tongkat yang memecah kesunyian malam. Iramanya begitu tak beraturan tapi tetap membawa nuansa penasaran pada diriku, Siapakah dia?. Rasa penasaranku pun diikuti dengan sorotan mataku yang tajam ke arah orang itu. Dia terlihat tak bisa melihat. Dengan menggunakan kacamata hitam, terlihat sekali matanya seolah-olah tak ingin ditunjukkan pada siapapun. Langkahnya sangat tergantung pada ayunan tongkat itu. Selangkah demi selangkah, dentingan demi dentingan menyiratkan dia hendak berkeliling setiap rumah di komplek daerahku di Way Halim Permai. Tak ingin terus menerus dinaungi rasa penasaran, maka saya berinisiatif untuk mendatangi orang itu. Ketika mendekat, saya pun langsung bertanya : “ada yang bisa saya bantu? Anda siapa ya?”. Dengan tersenyum diapun menjawab :”Saya Mang Udin, tukang pijit di daerah sini neng”. Akupun teringat dengan saudaraku yang sedari pagi merintih kesakitan karena tangannya sedikit terpelintir akibat bermain futsal. Langsung saja aku meminta jasanya sebagai tukang pijit untuk memijat tangan saudaraku. Sembari Mang Udin memberikan pemijatan, diam diam aku mengagumi sosoknya yang tunanetra namun tak sedikitpun terlihat raut sedih di wajahnya. Untuk mengisi kelamnya malam, aku memintanya untuk bercerita tentang kisah hidupnya sebagai tukang pijit tunanetra. Dan beginilah kisahnya.

Tumbuh menjadi cacat memang bukanlah  impian setiap insan yang selalu ingin menikmati sinar mentari sang nirwana dunia. Akan tetapi, semua itu sudah menjadi suatu goresan takdir yang tak dapat terelakkan. Meski sedih namun apadaya tangan seorang manusia seakan  rapuh untuk merubah nasib yang sudah menjadi kehendak Ilahi. Warna warni dunia yang seakan selalu memanjakan dan menggoda mata yang memandangnya tidak dapat dirasakan oleh para tunanetra ini. Mentari pagi yang selalu menyambut kita setiap pagi, seakan hanya terbit untuk orang lain dan bukan untuk dirinya. Kegelapan adalah teman sejati baginya. Dan siang adalah harapan serta mimpi yang tak mungkin terjamah olehnya. Ya.... begitulah yang terjadi pada Mang Udin, seorang tunanetra yang sampai saat ini tetap bersyukur dengan semua keadaan dan kekurangan yang terjadi padanya. Walaupun terkadang sedih, tetap harus dihadapi dengan senyuman dan kebahagiaan, itulah prinsip yang menjadi sandaran bagi dirinya dalam menjalani lika liku kehidupannya sekarang ini.

Tak seorang pun dalam hidupnya yang memimpikan menjadi tunanetra. Sebagai manusia normal, tunanetra merupakan bencana yang paling besar dalam kehidupannya. Karena menjadi tunanetra seakan akan hanya berhadapan dengan hitamnya dunia. Hal seperti itulah yang dirasakan Mang Udin 27 tahun yang lalu. Dia bukanlah seorang tunanetra yang cacat sejak lahir tetapi karena ada suatu penyakit di kornea matanya yang membuat penglihatannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Awalnya dia masih bisa melihat jelas cerahnya dunia, tapi semakin tahun berganti yang ia lihat hanya hitam dan putih dan pada akhirnya yang bisa ia lihat hanyalah kegelapan. Menurutnya, dia masih merasa lebih beruntung dibandingkan para tunanetra lainnya, karena kebutaan yang dialaminya berlangsung secara berangsur, sehingga dia bisa mempersiapkan batin maupun mental bila ia benar benar tak bisa melihat. 

Menjadi cacat memang bukan juga alasan untuk berkeluh kesah ataupun menggantungkan kehidupan pada orang lain. Inilah yang menjadi idealisme para tunanetra termasuk juga dengan Mang Udin sendiri. Dengan menggeluti profesi sebagai tukang pijit tunanetra inilah, ia mencari uang demi sesuap nasi bagi keluarga dan dirinya sendiri. Dengan bermodal pengalaman dan pengetahuan yang dia dapatkan dari pelatihan oleh departemen sosial pada tahun 1990-1992, saat ini dia telah berhasil menjadi tukang pijit yang cukup terkenal di kalangan bawah hingga kalangan atas. Banyak pelanggannya yang bekerja di perusahaan besar seperti United Tractors dan kalangan pegawai pemerintahan provinsi maupun daerah yang menjadi pelanggan setianya. Saat inipun dia sudah memiliki keberanian untuk memberi tarif minimum pemijatannya yaitu sekitar 30 ribu rupiah perjam. Memang bukanlah tarif yang mahal bila kita telah merasakan pelayanannya yang terbilang “mantab” dan sangat memuaskan. Teknik teknik dalam memijat pun sudah dikuasainya dengan baik sehingga tak ada alasan untuk meragukan keahlian memijatnya.

Selama lebih dari 20  tahun melakoni profesi ini, tak ada sedikitpun raut sedih maupun lelah yang terlihat dari wajahnya. Tongkat putih yang menjadi sahabatnya, selalu setia menemani perjalanannya sebagai seorang tunanetra. Dentingan irama tongkat sudah menjadi alunan simponi musik yang begitu indah bagi telinganya. Suka maupun duka menjadi tukang pijat telah menghiasi lembaran perjalanan kisah hidupnya. Dan semua itu sudah melebur menjadi satu dalam masa lalunya. 

Pernah suatu ketika ia sedang berkeliling untuk mencari rumah pelanggannya, hujan turun begitu derasnya sehingga membuatnya harus berlari. Karena buta, hanya tongkat putih yang selalu ia pegang itulah yang dapat diandalkannya sebagai penunjuk jalan. Namun sialnya, walaupun ia dapat terhindar dari bebatuan maupun pohon yang ada di depannya, tetapi tetap saja hujan deras membuatnya jatuh terperosok ke dalam porongan yang cukup besar. Bisa dikatakan istilahnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ternyata di dalam porongan itu penuh dengan sampah dan air limbah yang sangat bau dan menjijikan. Akhirnya hari itu Mang Udin harus mengurungkan niatnya untuk mencari nafkah, karena bajunya yang basah dengan air limbah dan kakinya yang sakit karena terjatuh kedalam ke porongan tersebut. “Pas itumah benar benar berkesan dalam sejarah hidup mamang selama menjadi  seorang tukang pijit neng.” Guraunya sambil tertawa di hadapanku. 

Baginya, pengalaman tersebut bukanlah menjadi penghalang dalam mencari nafkah bagi keluarganya. Dengan semangat awalnya yang tak pernah pantang menyerah untuk memberikan kebahagiaan pada keluarganya, dia terus menerus bangkit dan bekerja keras. Tanpa mengenal kata ragu dan menyerah, siang yang seakan terasa malam dan malam pun terasa siang baginya untuk mencari uang demi mewujudkan keceriaan bagi keluarganya. Dia bukan tukang pijit tunanetra biasa, karena semangatnya itulah yang berbuah hasil yang begitu memuaskan bagi dirinya maupun keluarganya, karena sekarang dia sudah memiliki tanah sendiri dan uang tabungan untuk membangun rumah bagi keluarganya. Saat ini, dia juga telah berumur 35 tahun dan sudah memiliki 2 orang anak, laki laki dan perempuan. Di sebuah rumah kontrakan sederhana yang disewanya beberapa tahun lalu di daerah Tanjung Seneng dekat Tower Indosat, dia bersama keluarganya tinggal bahagia di bawah naungan rasa syukur. Kebanggaan terbesar baginya adalah dapat menyekolahkan anaknya dan dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya keluarganya sehari hari. Di akhir ceritanya pun, dengan penegasan yang cukup mendalam dia mengatakan “Kita itu kalau jadi manusia harus selalu bersyukur. Apapun yang kita miliki berarti sudah yang terbaik dari Gusti Alloh. Ngga ada rasa kesal atau sedih menjadi tunanetra seperti saya ini, karena lebih baik tidak bisa  melihat daripada harus banya zina mata. Iya toh?. Ya...Inilah hidup yang begitu sempurna yang mamang rasakan.”  Sungguh mengesankan!.

Setelah mendengar ceritanya, sempat berpikir akan cerminan diriku, aku tak pernah puas dengan yang kudapatkan sekarang dan selalu ingin mendapatkan lebih dan lebih. Refleksi bayanganku menyiratkan ketidakpuasan yang aku dapatkan dalam hidup ini dan selalu begitu, tak pernah berubah. Terkadang aku menjerit dalam ketakutan untuk menghadapi masa depan yang begitu samar dibenakku. Akan menjadi apakah aku? Itulah pertanyaan yang terus menjadi hantu bagiku. Tapi setelah aku melihat betapa sang tunanetra tersebut membawa inspirasi dan motivasi yang sangat mendalam dan begitu menghancurkan ketakutanku, sehingga aku pun hanya bisa terlunglai sedih dalam sujud. Yang kurasa saat itu hanya betapa hina diriku menjadi hamba yang kufur nikmat. Aku masih memiliki mata yang indah sehingga bisa melihat warna warni dunia dan indahnya kilauan mentari sang fajar. Tapi sebagai manusia biasa, aku selalu lupa akan rasa syukur itu. Kisah Mang Udin inilah yang  saat ini menegurku untuk menjadi sosok terbaik sebagai khalifah di bumi dan menjadi sosok yang kuat dan tegar walau dunia memang begitu keras untuk dijalani. Tiga hal yang aku pelajari saat melihat sosok seperti Mang Udin ini, yaitu tentang kesederhanaan, kepandaian untuk bersyukur dan keikhlasan. Aku begitu terpukau dengan sosoknya yang memberikan makna terdalam pada arti hidup ini. Dialah inspiratorku yang selalu mengingatkan aku bahwa kegelapan dapat menjadi cahaya bagi orang yang ikhlas dan selalu bersyukur. Dan yang paling berkesan dari kata katanya adalah “Buta adalah kesempurnaan” bila kita mengerti arti hidup ini.    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar