LET'S ENJOY MY BLOG

Rabu, 03 Desember 2008

GAMBARAN TENTANG PEREMPUAN DI MEDIA MASSA

I. “Iklan lebih banyak menayangkan sosok perempuan yang bekerja di rumah dan laki-laki di luar rumah.” Saya setuju dengan pernyataan gambaran perempuan di media massa yaitu iklan lebih banyak menayangkan sosok perempuan yang bekerja di rumah dan laki-laki di luar rumah. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, dengan melihat beberapa sample iklan di televisi antara lain: • iklan obat batuk laserin • iklan Redoxon Calcium • iklan Telpon Rumah Telkom • ikln teh sarimurni sariwangi • iklan kecap bango versi buka puasa • iklan unilever versi ulang tahun ke-75 • iklan Sunlight versi pemberdayaan masyarakat. Dari 7 sample iklan tersebut, gambaran sosok perempuan di dalam cerita, karakter / penokohan dan aktivitas di dalam iklan-iklan tersebut menggambarkan sosok seorang perempuan yang bekerja di rumah, baik sebagai seorang ibu rumah tangga maupun sebagai ibu rumah tangga namun bekerja sambilan di luar rumah sambil mengurus anak. Sementara karakter / penokohan dan aktivitas kaum laki-laki di dalam iklan tersebut menggambarkan sosok seorang laki-laki yang bekerja di luar rumah, baik di kantor, nelayan, petani, dsb. II. “Tokoh pria memainkan peranan yang lebih besar pada perempuan” Saya setuju dengan pernyataan gambaran perempuan di media massa “ Tokoh pria memainkan peranan yang lebih besar pada perempuan”. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan di keluarga besar saya sendiri, saya dapat mengidentifikasi bahwa: 1. Dalam pengambilan keputusan musyawarah antara kedua orang tua saya sendiri, biasanya ibu saya selalu meminta pendapat atau mengikkuti keputusan dan pilihan menurtu pendapat ayah saya. Misalnya dalam keputusdan sekolah mana yang akan dipilih oleh adik saya. Dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Ibu saya mengikuti pilihan ayah saya yang menurutnya sudah baik. Contoh yang saya sebutkan di atas acapkali kita lihat benang merahnya yang sedikit menyerupai cerita di atas di televisi, baik cerita di sinetron, iklan, dsb di Indonesia. 2. Saya yang berasal dari suku Lampung, Palembang, yang memiliki garis patrialisme bisa memberikan sedikit contoh ke patrialisme-an di dalam keluarga saya. Saya mengambil contoh pada keluarga paman saya. Beliau adalah anak ke-3 dari 5 bersaudara. Dua orang kakaknya perempuan, sementara 2 orang adiknya, laki-laki dan perempuan. Jika kita menelaah secara logika, seharusnya anak pertamalah yang biasanya memimpin di dalam keluarga. Tetapi tidak seperti itu yang terjadi pada keluarga paman saya. Beliau yang berstatus anak ke-3, justru lebih dominan berperan memimpin keluarganya, yang kebetulan sudah ditinggalkan oleh ayahandanya. Di dalam keluarga, beliau sering menentukan keputusan-keputusan penting menyangkut keluarganya. Misalnya, ketika kakak pertamanya ingin menikah, maka beliau-lah yang berperan sebagai sosok ayah di keluarganya. Beliau yang menentukan keputusan diizinkan atau tidaknya kakak pertamanya yang notabenenay perempuan menikah dengan pasangannya. Contoh lainnya, ketika ayahanda dari paman saya meninggal duni, secara logika, tentunya hak waris akan jatu ke tangan anak pertama, namun karena ke-patrialismean tadi, maka paman saya yang berstatus anak ke-3, dan anak laki-laki tertua di dalam keluarganya, sehingga beliau yang mendapat hak waris dominan di dalam keluarga. Berdasarkan contoh-contoh yang saya uraikan di atas, tentunya dapat disimpulkan bahwa kebanyakan di dalam kehidupan sehari-hari kita, pada umumnya laki-laki memang memainkan peranan yang lebih besar pada perempuan. Dari “kebiasaan”, masyarakat Indonesia tersebut acapkali tergambarkan melalui penokohan di media massa. Contoh lain yang bisa saya paparkan yaitu dari buku 100 tokoh di Indonesia tentang profil singkat orang yang berpengaruh di Indonesia, hanya terdapat 8 orang tokoh wanita yangberperan dan memiliki andil besar di Indonesia yaitu Mari Elka Pangerstu (perempuan ekonom yang trengginas), Martha Tilaar-perawat kecantikan pribumi, Megawati Soekarnoputri-perempuan hebat di Indonesia, Rachamawati Soekarno Putri, Meutia Hatta-pembela kaum perempuan, Mooryati Soedibyo-Pengusaha jamu terkemuka, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut)-sang putri Soeharto, Sri Mulyani Indrawati-sosok penting kebijakan keuangan. Dari kesemua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa tkoh pria memainkan peranan yang lebih besar pada perempuan. III. “Tokoh perempuan lebih sedikit dibanding dengan tokoh laki-laki” Saya setuju dengan pernyataan di atas. Hal ini dibuktikan dari daftar 100 tokoh yang berpengaruh di dunia yang dikeluarkan oleh majalah TIME tahun 2008. Ternyata hanya beberapa saja nama-nama dari tokoh wanita yang disebutkan di dalamnya. Begitu pula dari uraian 100 peringkat nama tokoh dunia menurut Michael Hart yang dituliskan dalam bukunya, hanya terdapat 2 nama tokoh wanita yaitu Ratu Isabella I dan Ratu Elizabeth I, sedangkan yang lainnya adalah laki-laki. Sedangkan untuk 100 tokoh di Indonesia menurut sebuah buku yang berisi tentang profil singkat orang yang berpengaruh di Indonesia, hanya terdapat 7 orang tokoh perempuan didalamnya, yaitu: Mari Elka Pangerstu (perempuan ekonom yang trengginas), Martha Tilaar-perawat kecantikan pribumi, Megawati Soekarnoputri-perempuan hebat di Indonesia, Rachamawati Soekarno Putri, Meutia Hatta-pembela kaum perempuan, Mooryati Soedibyo-Pengusaha jamu terkemuka, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut)-sang putri Soeharto, Sri Mulyani Indrawati-sosok penting kebijakan keuangan. Hal ini terbukti memang lebih banyak tokoh laki-laki daripada tokoh perempuan melalui daftar urutan 100 tokoh berpengaruh baik di dunia maupun di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar